Berita

Investigasi Suap Bansos Covid-19 Mengalir Ke PDIP, Ilham Bintang: Yang Dilakukan Tempo Sesuai Kaidah Jurnalistik

Laporan: Tim Redaksi JMSI
KOMENTAR
post image
Mantan Menteri Sosial Juliasi P. Batubara/Net

Investigasi Majalah Tempo terkait munculnya nama sejumlah politikus PDI Perjuangan dalam kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Covid-19 yang menjerat eks Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara dinilai sudah melalui proses jurnalistik yang benar sesuai kode etik jurnalistik.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Kehormatan PWI Ilham Bintang dalam wawancara khusus bersama Bambang Sadono bertajuk "Konflik Media" dalam siaran Youtube 'Inspirasi Untuk Bangsa', pada Senin malam (28/12).

"Kami tetap berpegang bahwa apa yang dilakukan Tempo sesuai dengan prinsip-prinsip kerja profesional, mematuhi kaidah jurnalistik. Oleh karena itu kita berpegang bahwa itu benar sebagai fakta media," kata Ilham Bintang.

Sebab, sambungnya, Tempo hanya menyajikan fakta media dan melakukan verifikasi berlapis-lapis hingga menerbitkan hasil investigasinya tentang kasus dugaan korupsi dana bansos Covid-19 tersebut.

"Tempo sudah memenuhi kewajibannya untuk melakukan konfirmasi me-rechek kebenaran temuannya itu kepada orang yang memang sebenarnya punya hak untuk mengklarifikasi itu. Mereka (Tempo) sudah melakukan verifikasi berlapis-lapis lho," tegas Ilham Bintang.

Ilham menjelaskan, fakta yang disajikan Majalah Tempo itu merupakan fakta media dan bisa dipertanggungjawabkan.

Fakta media yang dimaksud, kata Ilham, yakni fakta tetapi tidak mempunyai bukti materil tapi telah melalui proses jurnalistik yang baik dan benar.

"Jadi, kalau mau diuji nanti fakta hukumnya di pengadilan. Fakta media, karena ada istilahnya fakta tapi tidak punya bukti materil. Karena itu kan dagang kekuasaan. Ini kan tidak bisa dibuktikan secara materil," jelasnya.

"Maksud saya fakta media itu menurut protapnya dia check and rechek apa segala macam, dia mintai keterangan, konfirmasi, tidak dijawab, ya dia turunkan berita itu. Jadi, Tempo itu yang pertama harus kita hargai bahwa dia sudah menggunakan melaksanakan kewajibannya meminta klarifikasi dari orang yang mestinya punya hak untuk menjelaskan itu," imbuh Ilham Bintang.

Adapun, terkait adanya sejumlah pihak yang meragukan hasil investigasi Majalah Tempo lantaran menuntut bukti materil dari pemberitaan munculnya nama putera Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dan Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani itu bisa dibuktikan di pengadilan nanti.

Meskipun, Tempo sudah berkali-kali melakukan klarifikasi namun justru tidak mendapat jawaban dari pihak yang bersangkutan.   

"Ada banyak kasus yang diungkap dibongkar oleh Tempo itu dibantah, tapi ternyata terbukti di pengadilan. Jadi saya percaya Tempo. Dengan catatan sebagai fakta media," ujar wartawan senior ini.

"Tempo melaksanakan kewajibannya meminta klarifikasi dari orang yang mestinya punya hak untuk menjelaskan itu. Tapi yang punya hak menjelaskan tidak menjelaskan. Sehingga buat saya Tempo sudah memenuhi kewajibannya karena dia hubungi, kan gitu. Jadi, sudah punya itikad baik untuk mengkonfirmasikan temuannya itu," demikian Ilham Bintang.

Diberitakan Majalah Tempo, Tim khusus Menteri Sosial Juliari Batubara diduga menampung fee dari perusahaan yang ditunjuk untuk mengadakan bantuan sosial bahan kebutuhan pokok.
Mereka menunjuk perusahaan yang belum lama berdiri sebagai pemenang. Paket bantuan itu disebut-sebut dikuasai sejumlah politikus dan pejabat negara. Duit suap disinyalir mengalir kepada calon kepala daerah dari PDI Perjuangan.

Bahkan, Juliari Batubara dan tim khususnya juga menunjuk rekanan untuk memproduksi goodie bag yang akan diproduksi oleh PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Masuknya nama Sritex merupakan rekomendasi putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka.

Juliari saat bertandang ke luar kota juga menggunakan sewa jet pribadi berkisar Rp 40 juta per jam. Ia menggunakan pesawat carteran itu saat berkunjung antara lain ke Kendal, Jawa Tengah; Medan; Bali; dan Malang, Jawa Timur.

Tak hanya untuk membayar jet pribadi, duit suap diduga juga mengalir buat memenangkan calon kepala daerah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam Pilkada yang digelar 9 Desember lalu.

Juliari diduga bertemu dengan salah satu anggota staf Ketua PDI Perjuangan Puan Maharani berinisial L. Dalam pertemuan itulah duit miliaran rupiah diserahkan kepada perempuan tersebut.

Foto Lainnya

UPN Veteran Yogyakarta Dipercaya Dewan Pers Gelar UKW Gratis Di Sumsel dan Gorontalo

Sebelumnya

Ketua Umum JMSI: Kewajiban Kita Hasilkan Karya Jurnalistik yang Konstruktif

Berikutnya

Artikel Berita